Anda pecinta musik jazz tanah air tentu merindukan munculnya musisi jazz setelah para senior yang dulu kita idolakan sudah semakin sepuh dan jarang tampil lagi, bahkan sudah ada yang berpulang. Sebut saja pasangan Jack dan Nien Lesmana, Bill Saragih, Embong Rajardjo, Buby Chen dan Benny Likumahuwa. Para penerus, musisi jazz muda yang sempat hadir meramaikan blantika musik tanah air seperti Indra Lesmana, Iga Mawarni, dan Andien-pun semakin jarang terlihat tampil.

Ternyata jauh dari radar kita telah lahir seorang musisi jazz yang dalam usianya yang masing sangat muda melejit bukan hanya di tanah air tapi di pentas mancanegara. Adalah Joey Alexander yang pada usianya yang baru menginjak 12 tahun saat ini dinominasikan pada dua kategori Grammy Award, untuk “Best Improvised Jazz Solo” dan “Best Jazz Instrumental Album”, pada gelaran yang akan dihelat pada bulan Februari tahun depan.

Grammy Award adalah penghargaan internasional paling prestisius untuk bidang musik dan rekaman yang digelar setiap tahun oleh National Academy of Recording Arts and Sciences.

Joey memang bukan nominator Grammy Award termuda, tapi prestasi tersebut tetap sangat langka. Tercatat hanya ada dua orang yang pernah dinominasikan pada usia yang lebih muda darinya, yaitu Michael Jackson dan Zac Hanson. Jika Joey nantinya memenangkan Grammy pada salah satu atau kedua kategori tersebut, maka dia akan memecahkan rekor sebagai peraih Grammy termuda sepanjang sejarah. Rekor ini sekarang dipegang Lee Ann Rimes yang meraih dua Grammy saat dia berusia 14 tahun.

Lahir di Denpasar, Bali, pada tahun 2003, Joey mulai bermain piano pada usia sangat mudah, 6 tahun. Namun tidak seperti anak-anak lain pada umumnya yang segera melupakan satu mainan dan mulai tertarik dengan mainan lain, kecintaan Joey pada piano tetap bertahan. Namanya mulai mendunia setelah dia bermain untuk salah satu legenda jazz dunia Herbie Hancock di Jakarta pada saat usianya baru 8 tahun.

Dua tahun kemudian Joey diundang oleh Wynton Marsalis, Direktur Jazz pada Lincoln Center di New York, untuk tampil pada gelaran Big Apple. “Saya tidak pernah melihat orang yang dapat bermain sebaik itu pada usia yang demikian muda”, kata Marsalis mengungkap kekagumannya pada seorang jurnalis seperti dikutip The Jakarta Post. “Saya sangat terkesan dengan penampilannya, ritmenya, rasa percaya dirinya, dan pemahamannya akan musik benar-benar luar biasa”, lanjutnya.

Sekarang Joey memiliki jadwal tampil yang cukup padat di berbagai kota di Amerika Serikat. Sebelumnya Joey sudah tampil di sejumlah ajang musik prestisius seperti Rochester Jazz Festival, Newport Jazz Festival, Jazz at Lincoln Center dan salah satu sesi TED Conference. Joey juga sempat memenangkan kontes improvisasi musik internasional di Ukraina pada tahun 2013. Semenara itu album pertamanya yang di-release pada bulan Mei lalu disambut para penggemar jazz dengan penghargaan tinggi. Terbukti di situs Amazon album ini mendapat rating review 4.9 dari skor maksimal 5.

Konon, bakat alamiah Joey dipoles secara otodidak. Dia tidak pernah mengikuti pendidikan musik formal. Melihat ketertarikan sang anak pada musik, ayahnya yang seorang musisi amatir sering membawanya menyaksikan pergelaran musik jazz baik di Jakarta maupun Bali, selain membiarkannya mendengarkan rekaman para musisi jazz dunia seperti Duke Ellington, Thelonious Monk, John Coltrane, Bill Evans, Clofford Brown, Lee Morgan, Miles Davis, Wynton Marsalis.