Dengan gaya hidup yang semakin penuh tantangan dan tekanan, masalah insomnia pada pria dan wanita sepertinya semakin banyak dihadapi masyarakat modern saat ini. Sayangnya pengetahuan minim membuat banyak diantara kita terjebak diantara fakta dan mitos tentang insomnia itu sendiri. Akhirnya alih-alih dapat teratasi, masalahnya semakin memburuk dan pengaruhnya pada kehidupan sehari-hari menjadi semakin berlarut-larut.

Untuk bisa berfungsi dengan optimal, tubuh manusia memang bukan hanya membutuhkan asupan kaya nutrisi sebagai bahan bakar tetapi juga membutuhkan istirahat yang cukup baik kualitas maupun kuantitasnya. Dalam hal ini tidur merupakan bentuk istirahat yang paling menyeluruh dan sangat dibutuhkan. Tidak heran kalau gangguan tidur secara langsung membawa pengaruh negatif. Dalam jangka pendek mungkin hanya sekedar kelelahan dan gangguan konsentrasi yang membuat aktivitas sehari-hari menjadi terganggu. Tetapi dalam intensitas yang lebih tinggi, akibat gangguan tidur bisa lebih serius, dari mulai masalah kesehatan sampai masalah perilaku.

Berikut adalah beberapa fakta dan mitos tentang insomnia yang perlu kita ketahui, sehingga kita tidak terjebak mempercayai sesuatu yang ternyata hanya sekedar mitos sementara di sisi lain memandang enteng fakta karena tidak benar-benar meyakininya.

Mitos: Alkohol Mengatasi Insomnia

Kesulitan tidur, tidur tidak nyenyak, atau terbangun sebelum waktunya dan tidak bisa tidur lagi sering kali dirasakan sebagai hal yang sangat mengganggu. Sebagian orang mempercayai bahwa menyeruput sedikit minuman beralkohol sebelum tidur dapat membantu. Karena alkohol cenderung mengakibatkan kelelahan, bisa saja alkohol membuat kita dapat tertidur. Tetapi konsentrasi alkohol dalam darah justru menurunkan kualitas tidur itu sendiri. Aneka gangguan dalam tidur, atau bangun dengan rasa lelah padahal seharusnya setelah beristirahat tubuh kita menjadi lebih bugar. Alkohol juga menyebabkan rentang waktu tidur semakin pendek, membuat kita cenderung terbangun sebelum waktunya.

Mitos: Insomnia Adalah Masalah Mental

Gangguan psikologis seperti banyak beban fikiran misalnya, memang bisa membuat kita kesulitan untuk tidur. Kenyataannya memang statistik menunjukkan bahwa masalah psikologis memang menjadi penyebab utama insomnia. Namun demikian ternyata masalah tersebut bukanlah penyebab insomnia satu-satunya. Ada banyak hal lain yang dipercayai secara medis sebagai penyebab insomnia seperti kondisi tempat tidur yang buruk, penyakit, efek samping dari obat, rasa sakit, dan sebagainya.

Fakta: Olah Raga Meningkatkan Kualitas Tidur

Regular Olah raga merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk meningkatkan kualitas tidur. Badan yang lelah dengan cara yang “baik dan benar” membuat tubuh lebih mudah terlelap. Selain mudah tertidur, biasanya kualitas tidurnya juga relatif baik. Mesipun demikian, hindari berolah raga menjelang tidur. Sisa-sisa aktivitas fisik dengan intensitas cukup tinggi seperti meningkatnya suhu tubuh biasanya baru benar-benar hilang dalam waktu sekitar 6 jam. Selama jangka waktu tersebut, kondisi badan justru biasanya tidak dalam keadaan “siap tidur”. Untuk memastikan anda mendapatkan kualitas tidur yang optimal, usahakan aktivitas olah raga anda selesai 2 sampai 3 jam sebelum tidur.

Mitos: Nonton TV atau Bermain Gadget untuk “Nyari Ngantuk”

Banyak orang meniru kenyamanan ala hotel dengan memasang TV di kamar tidur dan menikmati aneka siaran TV sambil rebahan dengan alasan “nyari ngantuk”. Di era digital sekarang, banyak yang menggantikan ritual “nyari ngantuk” ini dengan gadget. Kenyataannya justru sebaliknya, layar LCD baik pada TV, laptop, atau smartphone justru menurunkan kadar melatonin di dalam otak. Padahal melatonin sangat penting untuk kualitas tidur yang optimal. Kalau anda memerlukan sesuatu untuk “nyari ngantuk”, para ahli lebih menyarankan musik yang lembut atau buku.

Mitos: Obat Tidur Aman Digunakan

Para ahli memang membenarkan bahwa obat-obatan yang berfungsi untuk membantu meningkatkan kualitas tidur sekarang ini jauh lebih aman sekaligus lebih efektif. Meskipun demikian pada dasarnya semua substansi obat membawa resiko tersendiri, termasuk resiko ketergantungan. Jadi sebelum mengkonsumsi obat tidur, meskipun obat tersebut termasuk golongan yang dijual bebas, sebaiknya berkonsultasilah dulu dengan dokter langganan.

Yang sangat penting untuk anda sadari adalah bahwa obat-obatan ini hanya dapat membantu mengurangi gejala insomnia untuk sementara, tetapi tidak dapat menyembuhkan. Untuk penyembuhan, anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mencari dan menghilangkan penyebabnya.

Mitos: Kurang Tidur Bisa Diganti Kapan-Kapan

Jangan pernah berfikit bahwa kalau anda kurang tidur hari ini karena alasan tertentu kemudian anda dapat menggantinya dengan tidur lebih banyak di lain hari. Kerja keras dan begadang setiap hari lalu tidur habis-habisan di akhir pekan misalnya, justru dapat mengacaukan jam tubuh anda sehingga justru membuat kesulitan tidur di belakang hari. Jadi sebaiknya anda memaksakan diri untuk terikat dengan jadwal tidur yang tetap.

Mitos: Tidur Siang Untuk Mengganti Tidur Malam

Efek tidur siang berbeda-beda pada masing-masing orang. Umumnya tidur siang sejenak – sekitar 10 sampai 20 menit – bisa membuat tubuh lebih segar di sisa hari sesudahnya. Tetapi untuk penderita insomnia, tidur siang justru dapat menyebabkan terganggunya sistem pengatur tidur dalam otak sehingga justru membuat lebih sulit tertidur di malam hari.

Mitos: Melatih Tubuh untuk Tidur Sedikit

Kalau kita memaksa tubuh untuk tidur lebih sedikit, memang sering kali tubuh kita dapat mengikutinya. Misalnya kalau kita memaksa tubuh untuk terbiasa tidur larut dan bangun awal, lama-kelamaan tubuh akan mengikuti irama tersebut. Tidak ngantuk sebelum larut, dan sudah terbangun dengan sendirinya di pagi-pagi buta.

Tapi harus anda sadari bahwa itu justru buruk untuk kesehatan dalam jangka panjang. Tubuh manusia dewasa membutuhkan rata-rata 7 sampai 8 jam tidur setiap hari. Kita bisa saja membuat tubuh kita terbiasa dengan lebih sedikit tidur, tapi tidak berarti kemudian tubuh kita tidak membutuhkannya. Lama-kelamaan efeknya akan mulai muncul dan semakin lama semakin bertambah buruk. Beberapa diantaranya adalah kesulitan berkonsentrasi, cepat lupa, stamina menurun, meningkatnya resiko kecelakaan, dan munculnya berbagai macam penyakit.

Fakta: Jangan Memaksakan Tidur

Memahami bahwa tubuh memerlukan istirahat, banyak orang memaksakan diri untuk tidur meskipun tidak bisa tidur. Kalau tidak bisa tidur, tidak usah terlalu dipaksakan. Bangun sejenak dan gunakan waktu untuk membaca atau mendengarkan musik merupakan aktivitas yang dianjurkan para pakar. Pastinya pilihlah musik yang lembut. Aktivitas menenangkan seperti itu bisa membantu kita untuk mulai merasakan kantuk. Memaksa diri untuk tetap berbaring dan memejamkan mata sering kali justru membuat kita frustrasi alih-alih bisa tertidur. Ujung-ujungnya kita malah jadi terbiasa dan beneran nggak bisa tidur.

Fakta: Tidur Bisa Dilatih

Kita bisa membiasakan tubuh kita untuk menghubungkan aktivitas tertentu – biasanya yang menenangkan – dengan tidur. Misalnya saja mandi air hangat satu jam sebelum tidur. Bisa juga memilih membaca buku, mendengarkan musik, atau bermeditasi. Pilih sendiri aktivitas yang paling cocok, karena selera orang berbeda-beda. Memaksakan diri melakukan sesuatu yang tidak kita sukai justru berujung stress dan akhirnya malah susah tidur. Kalau anda sudah menemukan aktivitas yang paling efektif membantu anda terlelap, lakukanlah itu secara rutin setiap malam sebelum tidur, sehingga tubuh lama-kelamaan akan terbiasa dengan sendirinya.

Mitos: Gangguan Tidur Akan Hilang dengan Sendirinya

Sebagian kasus kesulitan tidur memang bisa hilang dengan sendirinya. Biasanya jika gangguan itu terjadi secara insidentil dan diakibatkan oleh hal-hal sesaat yang mudah dijelaskan. Misalnya saja minum kopi sebelum tidur padahal anda tidak terbiasa melakukannya. Baru saja mengalami kejadian buruk. Dan hal-hal sejenis. Tapi jika anda sulit tertidur, tidur tidak nyenyak, terbangun terlalu awal dan sulit untuk tidur lagi, atau merasa lelah saat bangun pagi, dan kejadian tersebut terjadi berulang secara terus menerus, berarti sudah waktunya anda berkonsultasi dengan dokter kepercayaan.