Biasanya pria merasa hebat kalau bisa memberi kepuasan seksual pada pasangannya. Sayangnya pada kenyataanya riset menunjukkan bahwa banyak wanita tidak mendapatan puncak kepuasaan saat berhubungan seks dengan suaminya. Sudah bukan rahasia lagi kalau pria lebih gandrung berhubungan seks daripada wanita, dan pada akhirnya yang dikejar justu kepuasannya sendiri, karena jika banyak wanita tidak mendapatkan orgasme saat berhubungan seks, pria hampir selalu mendapatkan ejakulasi.

Meskipun demikian, sebetulnya semua wanita juga menginginkan pucak kenikmatan tersebut. Tidak jarang wanita yang sering gagal mencapai orgasme kemudian mengalami berbagai masalah psikologis, dari hanya sekedar uring-uringan sampai depresi.

Marianne Wait, dalam artikel yang dimuat oleh WebMD menuliskan 7 kesalahan pria soal seks yang sering kali berujung pada kegagalannya memuaskan pasangan. Tentu ini bukan solusi. Meskipun demikian mengetahui kesalahan merupakan awal dari melakukan perubahan supaya kegagalan-kegagalan terebut tidak terus-menerus berulang. Lalu apa sajakah ketujuh kesalahan tersebut, silahkan simak di bawah ini.

Seks Bukan Hanya Soal Ranjang

Konon gairah pria menyala seperti saklar lampu, sekali pencet langsung terang benderang. Sementara gairah wanita seperti volume radio, diputar pelan-pelan sampai suaranya melengking keras. Peningkatan gairah seorang wanita terbangun dari jauh sebelum naik ranjang. Kedekatan harus dibangun perlahan. Bukan hanya pegangan tangan, pelukan, dan ciuman, waktu yang dihabiskan bersama dimana anda menunjukan kasih sayang dan penghargaan kepadanya juga turut berperan penting.

“Rasa aman dan stabil dalam hubungan dengan pasangan merupakan salah satu faktor yang sangat penting”, saran seorang terapis seks bernama Ian Kerner, PhD. Pelukan yang cukup lama memberi efek yang jauh lebih besar dari perkiraan banyak orang. “Pelukan selama 30 detik merangsang keluarnya hormon oxytocin yang membuat wanita merasa dekat dan percaya”, lanjutnya.

Jangan Sok Tahu

Wanita memang cenderung tertutup dengan perasaannya. Tentu anda sering mendengar wanita mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan fikiran dan perasaannya sendiri, misalnya mengatakan “Tidak apa-apa.” padahal dia sedih. Mengatakan “Terserah.” padahal dia tidak suka.

Soal hubungan seks, wanita juga diketahui sering berpura-pura orgasme hanya sekedar untuk memuaskan pasangannya. Nah kalau tidak dapat tapi pura-pura dapat orgasme, tidak mudah mengetahui apakah pasangan anda benar-benar mendapatkan puncak kepuasan itu, bukan? Dr. Kerner menyarankan anda untuk mengedepankan komunikasi. “Tanya saja, apakah ini enak, apakah mau sentuhan yang lain, dan sebagainya,” sarannya.

Karena anda tidak bisa benar-benar tahu, jangan sok tahu dan sekedar menebak-nebak, tanya saja.

Tidak Ada Pola

Hubungan seks tidak ada polanya. “Jangan pernah berfikir bahwa sesuatu yang berhasil kemarin kemudian juga akan berhasil hari ini, besok, besok-besok, dan seterusnya”, kata terapis seks Sari Cooper LCSW mengingatkan. “Apa yang merangsang wanita bisa berubah karena banyak faktor, dari mood sampai siklus haid turut berpengaruh” imbuhnya. Dia mencontohkan wanita yang sama suatu saat lebih terangsang saat disentuh puting payudara daripada kelaminnya, sementara di saat yang lain justru sebaliknya.

“Sering-seringlah bereksperimen sambil memperhatikan baik-baik reaksi pasangan anda”, seorang psikolog Lonnie Barbach, PhD menyarankan.

Anda juga disarankan untuk bersabar, jangan terlalu cepat mengubah strategi. Lakukan perlahan dan jangan cepat bosan dan berhenti. Sering kali wanita mengeluh karena pasangannya sudah berpindah melakukan hal lain padahal dia baru mulai menikmati dan terangsang.

Seks Bukan Hanya Soal Fisik

Dr. Kerner mengingatkan perbedaan mendasar antara pria dan wanita. “Jangan terpaku dengan rangsangan fisik”, katanya mewanti-wanti. Pria memang mudah terangsang dengan apa yang dilihatnya, sementara bagi wanita fantasi menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Penetrasi Bukan Segalanya

Bagi kebanyakan wanita, konon prosentasenya mencapai angka 80%, penetrasi saja tidak akan dapat membuatnya mencapai puncak. Alasannya adalah karena tidak ada posisi penetrasi yang secara langsung dapat memberikan rangsangan pada klitoris.

Pria dituntut untuk mau dan mampu bereksplorasi supaya pasangannya juga dapat mencapai puncak kenikmatan. “Biasanya wanita lebih mudah mendapatkan orgasme dari seks oral daripada penetrasi”, kata Dr. Kerner menjelaskan. Cobalah posisi wanita di atas. Sekali-sekali pakailah vibrator. “Jangan sungkan apalagi merasa tersaingi dengan kehadiran alat-alat bantu seks”, sarannya.

Supaya pasangan anda bisa mencapai orgasme, jangan asal tembak. Buatlah dia sangat terangsang sebelum anda memasukinya. Dorong dia sedekat mungkin mencapai orgasme sebelum mulai melakukan penetrasi, sehingga penetrasi benar-benar hanya seperti menusuk balon yang sudah menggembung.

Jangan Melupakan Gairah

Supaya bisa mencapai puncak, wanita harus terangsang. Supaya bisa terangsang, dia harus terpancing gairahnya. Karena itu membangkitkan dan menjaga gairah menjadi hal yang sangat penting. Karena masing-masing orang berbeda, anda harus mempelajari apa yang benar-benar efektif membangkitkan gairah pasangan. Tidak heran kalau penelitian mengungkap bahwa kebanyakan wanita tidak mendapatkan orgasme pada beberapa hubungan seks pertama dengan seorang pasangan.

Cari tahu apa yang membangkitkan gairah pasangan, bisa oral, visual, atau mentail. Apakah pasangan anda terpancing gairahnya dengan kata-kata nakal yang anda ucapkan melalui telepon atau SMS? Apakah dia bergairah saat anda melirik mesra saat dugem bersama? Apakah dia bergairah ketika anda menyentuh lehernya saat minum berdua?

Jangan lupa untuk membangkitkan gairahnya melalui pujian.

Jangan Terpaku Dengan Klimaks

Memang benar bahwa wanita memerlukan rangsangan pada klitoris supaya bisa mencapai orgasme. Tapi jangan ujug-ujug langsung kesitu. Jangan juga terus-terusan bermain disitu-situ saja.

“Perlu anda ketahui bahwa klitoris tidak lain adalah pusat dari jaringan kompleks yang menyebar baik di luar maupun di dalam vagina”, kata Dr. Cooper menjelaskan. Selain “serangan langsung”, pendekatan yang terfokus dari luar kemudian menggiring menuju klitoris dan berakhir disitu juga harus dihindari. “Cobalah maju mundur, bolak-balik”, sarannya.

Dia juga mengingatkan bahwa karen bagian intim wanita sangat sensitif, sentuhan yang terlalu intens juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan bahkan rasa sakit.